Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 22 Maret 2012

PP. Al-Hidayah Annuriyyah Ngepung Benjeng Gresik


Ponpes An Nuriyah Cetak Santri Hafal Al Qur’an
22 October 2010
BENJENG (beritagresik.com) – Meski usianya baru 10 tahun, keberadaan Pondok Pesantren (Ponpes) An Nuriyah di Dusun Ngepung, Desa Klampok, Kecamatan Benjeng ini, cukup memberikan warna bagi masyarakat sekitar. Masyarakat merasakan manfaat yang nyata dari hasil gemblengan Ponpes ini.
Penekanan pada pelajaran nahwu-shorof dan langsung dipraktikkan dalam bacaan Al Qur’an, serta keberadaan dua orang pemangku pondok yang pernah nyantri kepada Mbah Maksum dari Lasem, Rembang, merupakan kekuatan tersendiri bagi pengembangan Ponpes An Nuriyah.
Awalnya, pemuda Misbahuddin nyantri cukup lama pada cucu Mbah Maksum Lasem, yakni Gus Zaim yang saat ini menjabat Sekretaris Asosiasi Ponpes Se- Provinsi Jawa Tengah, di kampung Karang Turi Kecamatan Lasem. Ia juga berguru ke Gus Sihab di Kampung Soditan, Kecamatan Lasem.
Setelah dirasa cukup, Misbahuddin pulang kampung ke Balong Panggang dan menikah. Di sana ia memilih tinggal di Desa Klampok. Di desa inilah ia mengamalkan ilmu yang telah didapat dari nyantri di Lasem tersebut.
Meski awalnya hanya sebatas mengajar ngaji biasa, lama kelamaan santrinya bertambah banyak. Materi pelajaran pun ditambah dengan tajwid, nahwu, shorof, sehingga bacaan Al Qur’an menjadi benar. Dari embrio inilah keinginan untuk mendirikan pondok pesantren kian tidak terbendung.
Ketika pondok yang didirikan tahun 1999 ini berdiri, setelah melakukan riyadoh (ritual), maka didapatlah nama An Nuriyah yang diambil dari nama istri Mbah Maksum, Lasem, Rembang. Awalnya baru mempunyai tujuh santri yang menetap. Namun demikian, kegiatan keagamaan digelar sebagaimana yang biasa dilakukan di pondok Lasem. Bahkan di tahun ke-3, ponpes ini mulai merambah pelajaran manasik haji, sekaligus mengantar dan membimbing jamaah haji ke Mekkah.
Perkembangan pembangunan pondok juga makin pesat. Ini tak lepas dari aktivitas membina jamaah calon haji. Imbasnya, arus masuknya dana dari dermawan pun terus mengalir. Silaturrahim dengan jamaah yang pernah dibimbing ke Mekkah terus dijalin lewat beberapa kegiatan dan pengajian.
Dengan demikian, ikatan batin antara jamaah dan pondok tetap terjaga dan komunikasi terus berlangsung. Bahkan Misbahuddin dengan senang hati membantu jamaahnya saat pelaksanaan ibadah di Mekkah, termasuk sebagai penerjemah saat belanja.
Karena kegiatan Misbahuddin begitu padat, ia mengajak adiknya, Abdul Mu’thi Muhaimin yang juga cukup lama nyantri di cucu Mbah Maksum Lasem, Rembang untuk mengelola dan membesarkan Ponpes An Nuriyah. Maka digagaslah pendirian sekolah formal tingkat Tsanawiyah, melengkapi yang sudah ada, yakni madarasah diniyah awwaliyah, wustho, dan ula.Pemangku Ponpes An Nuriyah Abd Mu’thi Muhaimin saat ditemui di kediamannya, Kamis (21/10/2010) mengatakan, saat ini santrinya sebanyak 135 anak. Dari jumlah itu, 70 di antaranya adalah santri kalong (tidak mukim).
Tentang biaya, untuk santri yang full day school dikenai cuma Rp 120.000. Itu sudah termasuk makan dan biaya sekolah.
“Sementara yang tidak mampu, kami gratiskan. Untuk santri kami, dalam waktu 3 tahun harus hafal juz Amma (juz 30) dan minimal harus khatam mengaji Al Qur’an yang 30 juz,” paparnya. (gia/sis)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar